Bidan

Bidan
Bidan
Foto: DwiKm aka. @fotodeka

Masih berkaitan dengan wang sinawang, beberapa waktu lalu saya teringat obrolan dengan seorang kawan, sebut saja Mas Jewe, membicarakan hal yang kurang lebih sama, yaitu ingin hidup seperti apa, terutama jika sudah berumah tangga kelak.

Secara garis besar, Mas Jewe punya cita-cita yang sama dengan saya, bukan uang yang melimpah, mobil yang berpuluh-puluh, apartemen mahal di lantai terbaik dengan view terbagus, dan sejenisnya.

Harapan yang diimpikan sederhana saja, hidup di desa, tidak kekurangan, tidak pula sampai terlalu berlebihan. Secara detail, ia membayangkan memiliki rumah sederhana, membuka toko kelontong di samping rumah tersebut, dan… beristrikan seorang bidan.

Mengapa bidan? Karena menurutnya para bidan umumnya tidak jijik-an selalu dibutuhkan setiap saat oleh para perempuan hamil. Selain itu dengan menjadi bidan, akan membantu tetangga sekitar ketika ingin melahirkan sebab tidak perlu jauh-jauh pergi ke kota.

Sementara istri sibuk melayani para ibu hamil, Mas Jewe membayangkan ia akan sibuk melayani para pelanggan yang datang untuk berbelanja di toko kelontongnya. Sambil sesekali membantu mijeti Sang Istri ketika kelelahan karena harus begadang semalaman membantu proses kelahiran.

Sederhana tapi menyenangkan to?

12 thoughts on “Bidan

    1. Sederhana, sing penting cukup lan ora kekurangan.. Ora perlu nganti mobil e sak endonesa raya, ra perlu duwe pesawat jet pribadi, sing penting ayem tentrem kalo keluarga… *curhat cah LDR* 😀

  1. nek iso syukur karo kuoso urip sederhana adalah berkah..
    o ya mas , bidan ki nek kerjo melu uwong rekoso lho, kerjone awan mbengi sore isuk ..nek bab ora jijikan ki emang hooh….aku ngerti kui sumpih :))

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.