Budaya dan Busana

Adalah bermula dari Mas Jewe di akun Path-nya memasang gambar salah seorang anggota JKT48 terkenal yang cantik sedang beraksi di panggung, kemudian ditambah Mas Vindra yang manas-manasi untuk “urun judul”, maka walau tak menggunakan judul yang di-urun-i tadi, posting ini muncul.

Sebenarnya apa yang ada di posting ini sudah lama ada dalam pikiran dan siap ditulis, tapi karena selalu ditunda-tunda maka jadi terlupakan dan baru kembali teringat sekarang ini.

Nah, kembali ke postingan Path tadi, di situ menampilkan gambar salah seorang anggota JKT48 saat di atas panggung mengalami sedikit gangguan kecil pada busananya, yaitu -maaf- terlepasnya tali bra yang kemudian sedikit menjulur keluar dari baju tanpa lengan anggota cantik itu.

Eh kok ya ndilalah-nya ada yang sela sempat memotretnya, dan ada yang lebih sela lagi dengan meng-uploadnya di Path. Tur ketokke aku ya sela, ha koyo ngene kok ya ndadak jadi bahan blog lho.

Seperti sudah banyak yang tahu kalau JKT48 sebuah idol group Indonesia  yang merupakan sister group AKB48 yang berasal dari Jepang.

Sebagai sister group tentunya JKT48 harus mengikuti beberapa hal yang dituntut sama dengan AKB48 yang menjadi saudara tua, dalam hal ini adalah gaya busananya, terutama saat di panggung. Mosok ya ngaku sister group, yang satu pake seragam ala anak sekolah, yang lainnya cuma dasteran dan sendal jepit swallow?

Tapi tentu saja dan sayangnya tidak semua tampilan dan busana yang dikenakan AKB48 saat panggung maupun di video clip-nya dapat ditiru bulat-bulat oleh JKT48.

Saya menduga “perbedaan budaya” menjadi salah satu pertimbangan adanya perbedaan busana -yang menurut saya vital- antara kedua idol group bersaudara itu.

Misalnya saat mereka membawakan “Heavy Rotation”, busana versi panggung antara kedua group idol ini relatif sama. Namun untuk versi video clip ada sedikit perbedaan.

Sekali lagi perbedaan budaya jadi salah satu faktor yang membedakan busana yang dikenakan pada videoklip “Heavy Rotation” ini.

Versi JKT48,  yang sangat kental dengan ke-Indonesia-annya, atau bahkan ke-Jakarta-annya, menggambarkan suasana mereka masuk kelas baru pada hari pertama SMA mereka.

Busana yang ditampilkan dalam videoklip ini selain seragam SMA yang putih abu-abu itu, juga diperlihatkan para anggota JKT48 menggunakan busana yang biasa mereka pakai saat membawakan lagu ini di atas panggung.

Adapun “Heavy Rotation” versi videoklip ala AKB48 sangat jauh berbeda. Dalam videoklip ini, mereka juga pada beberapa bagian terlihat menggunakan seragam seperti yang biasa dikenakan saat tampil di panggung. Namun busana lainnya, alih-alih mereka mengenakan seragam ala SMA Jepang, para member cantik-cantik dan muda-muda itu hanya menggunakan..

*maaf jeda sebentar, mimisan*

OK, sampai mana tadi? Oh busana. Anu, mungkin ketimbang diceritakan, ada baiknya kalau disimak langsung saja ya. Ini dia..

Bagaimana? Kekuatan perbedaan budaya memang dahsyat kan?

Nah, kembali ke cerita kecelakaan kecil member cantik anggota JKT48 tadi. Untung dia ada di Indonesia sehingga  busana yang digunakan relatif aman biar kata bra-nya di dalam kondisinya sudah sembret-sembret.

Bayangkan misalnya tidak ada alasan perbedaan budaya sama sekali, sehingga setidaknya dari sisi kostum harus sama plek dengan sister groupnya itu.

Tentu kecelakaan seperti -maaf- lepasnya tali bra tadi, tidak akan dianggap sekedar “kecelakaan kecil” saja. Apalagi misalnya pas mereka benar-benar menggunakan busana yang sama persis dengan videoklip sister groupnya yang ini:

Bagaimana? Mbebayani ta itu?

3 thoughts on “Budaya dan Busana

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.