Dokter

Veterinarian
Dokter Hewan alias Veterinarian

Dulu sekali pernah ada joke tentang dokter yang sering disampaikan di dagelan mataraman atau di pertunjukkan wayang kulit saat gara-gara.

Konon, menurut joke ini, untuk jadi dokter, seseorang haruslah sangat cerdas, karena dibutuhkan waktu sekolah (maksudnya kuliah) selama 7 tahun agar bisa memahami seluruh bagian tubuh manusia dan mengetahui bagaimana cara mengobatinya jika sakit.

Sangat berbeda dengan dokter gigi yang walau sudah bersusah payah selama 7 tahun namun hanya dapat memahami bagian mulut dan gigi manusia saja.

Tapi, dokter umum atau apalagi dokter gigi, tidak dapat mengalahkan kecerdasan seorang dokter hewan.

Alasannya adalah, secerdas-cerdasnya dokter umum, ia harus tetap bertanya pada pasien: “Apa yang dirasakan Pak?” atau “Biasanya yang terasa sakit di mana Bu?”

Jadi ternyata untuk mengetahui sakit sang pasien, seorang dokter umum yang cerdas sekalipun masih harus bertanya pada pasiennya.

Bila dibandingkan dengan dokter hewan, tidak pernah sekalipun ada kejadian seekor guinea pig mengeluhkan masalah pencernaannya pada si dokter hewan, atau seekor golden retriever yang mengadu bulunya rontok karena salah makan.

Dokter hewan tidak bertanya dan pasien tidak pernah menjawab, tapi dokter hewan bisa tahu dan paham apa penyakit si pasien dan bahkan bisa memberi obat serta larangan dan anjuran demi cepatnya proses penyembuhan.

Atau bisa jadi, si dokter hewan memahami bahasa hewan sehingga sesungguhnya telah terjadi komunikasi intens antara dokter dan pasien tersebut, yang tak dapat tertangkap oleh kemampuan manusia biasa.

Perlu lebih dari sekedar cerdas untuk bisa mencapai taraf kemampuan seperti itu kan? Jadi dokter hewan-lah yang muncul sebagai yang tercerdas.

Namanya juga joke, tentu saja kenyataannya tidak demikian. Para dokter gigi jangan marah, dokter umum jangan gelisah, dan dokter hewan jangan lantas menepuk dada.

Karena pasti ada pertimbangan ilmiah mengapa dokter gigi harus dibedakan dengan dokter umum, dan pasti juga ada penjelasan logis mengapa dokter hewan bisa memahami apa yang diderita pasiennya.

Namun dari semua itu, saya kagum pada para dokter hewan yang menyatakan dirinya sebagai “dokter hewan untuk satwa liar”.

Jadi, ketika para dokter hewan sejawatnya membuka praktek dan melayani hewan-hewan peliharaan yang “manis-manis” yang diantarkan pemilik hewan peliharaan tersebut yang cantik-cantik, tampan-tampan, dan wangi-wangi, kawan-kawan dokter hewan untuk satwa liar ini memilih masuk ke hutan untuk membantu melindungi dan melestarikan hewan-hewan yang terancam punah langsung di habitat asli satwa liar tersebut.

Mungkin bukan pilihan yang populer dari segi pendapatan dan kenyamanan, namun harus ada yang melakukan hal tersebut karena kelestarian, dan kawan-kawan dokter hewan ini dengan ikhlas melakukannya dengan luar biasa.

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.