August 4, 2020
Majalah HAI dulu dan sekarang

Majalah HAI dulu dan sekarang

Mengikuti perkembangan majalah HAI dari dulu hingga sekarang, mengingatkan akan sebuah pemeo.

Pemeo tersebut kurang lebih berbunyi, “maju tak gentar, membela yang bayar!”

Dalam banyak kesempatan pemeo tersebut nyaris selalu berkonotasi negatif. Karena seolah hanya menggambarkan sikap seseorang, kelompok, atau organisasi, yang dalam bersikap hanya dilandasi oleh kepentingan ekonomi belaka. Masalah integritas dan kejujuran bisa dikesampingkan.

Padahal hubungan antara si penyedia produk/jasa (yang maju tak gentar itu) dengan si pemilik uang yang bersedia membayar produk/jasa tadi (si yang bayar), hal yang netral, tidak positif, belum tentu negatif.

Itu jadi menarik untuk diamati jika melihat perkembangan majalah Hai dari dulu hingga beberapa hari lalu, saat Mas Felix Dass membuat surat terbuka pada majalah ini.

Tidak tanggung-tanggung, judul surat terbuka tersebut lumayan menggelitik: “Majalah Hai Katro“.

Surat terbuka tersebut secara keras memprotes “pelanggaran produksi” yang dilakukan Hai beberapa waktu sebelumnya. Berupa praktik memungut komentar-komentar di media sosial, di-screen-capture, kemudian dijadikan berita.

Sebagai orang yang pernah menimba ilmu jurnalistik dan tulis menulis dari majalah beberapa tahun silam, sangat masuk akal kalau kemudian Mas Felix melayangkan surat terbuka ini.

Ketika membaca surat terbuka itu, kemudian melihat konten yang dihasilkan dari “pelanggaran produksi” tersebut, saya juga sempet ikut panas.

Kemropok. Ing atas e Majalah HAI je… Kok akhirnya juga sama seperti media lain yang membuat berita dari konten media sosial para pesohor.

Karenanya, mungkin untuk mencoba menemukan semangat majalah HAI yang dulu pernah ada, iseng saya mencoba mencari iklan TVC majalah ini. TVC yang pernah tayang di TVRI sekitar tahun 80-an. Ini penampakannya:

Seusai kembali menonton TVC tadi, dengan berat hati jadi harus memandang apa yang dilakukan Hai, yang dianggap “pelanggaran produksi” tadi adalah hal yang wajar. Sekali lagi bukan “salah – benar” ya, tapi wajar.

Wajar karena dulu Majalah HAI sangat relate dengan para pembacanya, anak-anak muda yang punya rasa ingin tahu tinggi, serta semangat berkarya dan berbuat sesuatu yang sangat berkobar.

Masa itu, majalah HAI dengan semangat “Maju tak gentar, bela yang bayar!” tadi, mati-matian memenuhi keinginan anak-anak muda itu. Anak-anak muda yang sudi menyisihkan uang saku mereka, agar bisa membeli majalah yang terbit tiap hari Selasa ini. Tidak perduli panas atau angin.

Sebagai timbal baliknya, HAI menyuguhkan berbagai macam konten yang kala itu banyak diminta oleh para muda pembacanya.

Seperti belajar membuat komik bersama Jan Mintaraga bagi anak muda yang punya hobby menggambar, profil idola yang sedang naik daun, cerita tentang teknologi terkini, parade puisi yang biasanya dinantikan para penyair muda yang mengirimkan karyanya dengan harap-harap cemas, cerita pendek bagi si pecinta prosa dan para penulis handal, serta masih banyak lagi konten semacam itu.

Konten-konten yang mungkin tak pernah disangka ada oleh anak-anak muda yang mengenal HAI di masa kini.

Saat ini, mungkin karena formatnya bukan majalah lagi, HAI (dan media online lainnya) mungkin punya cara pandang baru terhadap siapa yang harus mereka “Maju tak gentar, bela yang bayar!”-in.

Memang benar, dari sisi pangsa pasar yang dituju masih anak-anak muda juga. Tentu saja anak-anak muda di era masa kini yang punya semangat, gaya, dan pola pikir berbeda dengan anak muda beberapa dasawarsa lalu. Jadi pastilah kemasannya berbeda.

Namun, jaman sekarang bukan anak-anak muda itu yang secara langsung menyisihkan sebagian uang sakunya demi bisa mendapatkan konten yang disuguhkan, yang itu kemudian digunakan untuk membiayai kegiatan operasional sehari-hari HAI.

Sebab sekarang, yang menentukan apakah sebuah media online dapat berjalan karena biaya operasional hariannya terpenuhi dengan baik, adalah seberapa besar trafik yang diperoleh media tersebut.

Jadi di masa kini, nampaknya HAI “maju tak gentar” bersemangat menggunakan berbagai trik dan teknik, mati-matian meningkatkan trafik ke situsnya.⁣⁣
⁣⁣
Iya, trafik yang numerik. Bukan yang berupa manusia-manusia muda bersemangat tumbuh, berkembang, dan bersemangat mengekspresikan diri.⁣⁣
⁣⁣
Jadi ya… Wajar.⁣⁣

temukonco

husband | food-lover | good-listener | secret-keeper | story-teller | TemuKonco Podcast | merindukan ngopi a la kopi tiam | lengkap dengan roti sari kaya | dan telur setengah matangnya

View all posts by temukonco →

2 thoughts on “Majalah HAI dulu dan sekarang

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.