Kalau tak ada aral melintang, 9 November 2017 nanti buku pertama saya (dan semoga bukan yang terakhir) berjudul SOEKAMTI GOES TO PAPUA secara resmi dirilis.

Sesuai judulnya, ini adalah catatan perjalanan selama mengikuti Endank Soekamti ke Papua, waktu mereka rekaman album SALAM INDONESIA dan mengajar serta berbagi dengan anak-anak di sana.

Walaupun cuma sebulan lebih sedikit ternyata banyak hal yang didapat dan bisa dituliskan.

Tentu saja tidak semuanya bisa dan layak masuk ke buku SOEKAMTI GOES TO PAPUA dengan bermacam alasan dan pertimbangan.

Nah, daripada yang tidak masuk buku itu tadi terbuang dan terlupakan, beberapa di antaranya coba akan disimpan di sini.

Karena banyak, niatnya mau dibikin berseri sejumlah banyaknya bab di buku SOEKAMTI GOES TO PAPUA, yaitu 30.  Jadi sehari satu tulisan sampai 30 hari ke depan. Semoga bisa ya.

Oke kita mulai!

Apa yang menurutmu paling berkesan ketika menginjakkan kaki di tanah Papua untuk pertama kalinya?

Ndak tau kenapa, dari sekian banyak kehebohan dan keseruan yang sempat diceritakan —atau dibocorkan lewat media sosial ketika tim Endank Soekamti masih di Papua—, kok ketika kembali ke Yogyakarta banyak teman saya yang menanyakan hal yang sama tersebut.

Tentu saja karena pertanyaannya sama, maka jawaban yang diberikan juga sama dong. Konsisten.

Jawaban yang diberikan untuk pertanyaan itu:

Hal yang paling berkesan adalah di sana saya rasanya seperti kembali menemui Indonesia yang sebenar-benarnya.

Sebelumnya saya pikir kesan itu muncul karena saya sampai di Sorong tepat di Senin pagi, ketika siswa-siswa SD hingga SMA dan para pegawai negeri, sedang bergegas ke sekolah atau tempat kerja mereka, supaya tidak terlambat mengikuti upacara bendera.

Kesan “menemui Indonesia” makin menguat sepanjang perjalanan dari lapangan internasional Sorong, Domine Eduard Osok, menuju pelabuhan kecil Usaha Mina tempat kita akan meluncur ke KLM Kurabesi.

Sebabnya di sepanjang perjalanan tersebut, kami melewati beberapa sekolah dan perkantoran. Rata-rata semua sedang melaksanakan upacara bendera.

Kedengarannya aneh ya. Lha wong melihat upacara bendera aja kok rasanya kayak “menemui Indonesia yang sebenar-benarnya.” Lebay.

Tidak salah ada yang berpikiran gitu.

Tapi yang saya ada di pikiran saya saat itu, mereka yang sedang upacara bendera ini melakukannya di lokasi yang jauhnya ratusan kilometer dari ibu kota negara ini.

Sementara di daerah-daerah yang jaraknya lebih dekat ibukota negara, beberapa waktu lalu (setidaknya sebelum saya berangkat ke Papua), ada sekolah-sekolah yang tidak lagi melaksanakan upacara bendera tiap Senin.

OK, saya jujur. Jaman sekolah dulu saya juga males kok kalau disuruh berpanas-panas berdiri di lapangan untuk upacara bendera tiap hari Senin.

Namun, ketika saya di Papua kemarin, saya baru sadar bahwa salah satu hal terjelas yang menunjukkan kalau kita sedang di Indonesia, ya adanya upacara bendera yang dilakukan tiap Senin ini.

Kalaupun ada negara lain yang juga melakukan upacara bendera tiap Senin, sudah pasti benderanya bukan merah putih.

Terakhir saya cek Monaco yang juga berbendera merah putih tidak ada upacara bendera rutin tiap Senin, dan lagi pula Monaco juga bukan sepenuhnya negara tapi principality.

Waktu itu saya juga berpikir kok, mungkin rasa dan kesan yang muncul ini terlalu berlebihan. Mungkin ini efek dari semangat yang meluap-luap karena ini pertama kalinya berkunjung di pulau tertimur Indonesia ini.

Tapi setelah berkunjung ke beberapa SD di Raja Ampat dan Teluk Cenderawasih, ternyata benar. Saya merasa menemukan Indonesia yang sebenar-benarnya di sini, dan itu karena upacara bendera.

Bayangkan, sebuah SD yang hanya terdiri dari 3 ruang kelas, satu ruangan terdiri dari murid-murid dari dua kelas yang berbeda. Kemudian, untuk mengabsen seluruh siswa SD yang total jumlahnya sekitar 80-an anak tersebut, digunakan satu buku absen saja.

Kondisi buku-buku pelajaran yang ada dan dibagikan untuk murid-murid juga tidak dalam kondisi yang prima. Masih bisa dibaca sih, tapi sobek di sana-sini. Bahkan ada yang steples jilidan-nya sudah lepas, sehingga luput sedikit memegang, lembaran-lembaran buku akan tersebar ke mana-mana.

Ada lagi sekolah dasar lainnya yang tidak dialiri listrik sama sekali di setiap kegiatan proses belajar mengajarnya di siang hari.

Bukan karena belum ada jaringan listrik di daerah itu. Melainkan karena listrik di pulau tempat sekolah itu berada, hanya mengalir dari sekitar jam 6 sore hingga jam 7 pagi.

Jika saat Ujian Nasional tiba, bukan soal ujian yang dikirim ke sekolah-sekolah mereka melainkan anak-anak yang ujian yang berangkat ke ibukota kabupaten untuk mengikuti ujian di sana sesuai rayon sekolah masing-masing.

Oh iya, berangkatnya lewat laut pakai perahu motor tempel. Bukan pakai kapal feri atau kapal pesiar mewah yang sering terlihat di televisi.

Kaitannya dengan berangkat pakai perahu, ada lagi sebuah kampung yang kalau hujan deras dan angin kencang, anak-anak di kampung itu tidak berangkat sekolah. Tapi alih-alih libur, kepala kampung setempat menyediakan beranda depan rumahnya untuk sekolah darurat di hari-hari cuaca buruk dan badai.

Namanya juga sekolah darurat, beranda depan rumah yang luasnya tak seberapa itu harus menampung siswa-siswa SD dari kelas 1 – 6, dengan tenaga pengajar perempuan-perempuan setempat. Para perempuan setempat pengajar darurat ini, tidak mendapatkan bayaran atas jasanya mengajar karena memang mereka melakukannya suka rela.

“Tidak apa, yang penting anak-anak tidak ketinggalan pelajaran.” itu salah satu alasan dari seorang pengajar.

Semua kondisi dan situasi yang kalau dibandingkan dengan para pelajar SD di ibu kota atau di Yogyakarta, jelas relatif jauh lebih berat dan menantang.

Nah, yang bikin terharu adalah, dalam keadaan seperti itu, adik-adik kita dari timur ini masih melakukan upacara bendera tiap hari Senin.

Bayangkan kalau kondisi itu dirasakan oleh siswa-siswa di sini. Jangankan mau upacara, yang ada para wali murid segera mengambil si anak dan memindahkannya ke sekolah lain. Bahkan mungkin ke negara lain, yang lebih nyaman dan serba terpenuhi.

Patuh dan mencintai (setidaknya dalam bentuk upacara bendera tiap Senin) dalam kondisi yang tak senyaman saudara-saudara lain di daerah lain inilah yang membuat saya merasa melihat “Indonesia yang sebenarnya”.

Perasaan yang sama yang dulu muncul ketika mengunjungi sebuah desa terakhir sebelum memasuki hutan lindung Bukit Batikap di Kalimantan Tengah.

Ketika melihat para penduduk desa di sana, demi mempersiapkan kemeriahan hari ulang tahun Indonesia Agustus tahun depan, bulan November tahun ini sudah mulai sedikit demi sedikit mencicil membeli barang-barang dan kebutuhan yang diperlukan untuk acara peringatan kemerdekaan Indonesia itu.

Alasannya karena pasar yang menyediakan keperluan seperti kertas minyak merah putih, benang, tali, cat, paku, dan sejenisnya, letaknya jauh, menempuh waktu yang lama, dan memerlukan biaya yang besar untuk sekali jalan.

Tapi sama seperti anak-anak Papua tadi, para penduduk desa suku Dayak ini, walaupun kondisinya seperti itu, tetap melakukannya.

Sekarang kalau melihat kondisi kita yang selama ini sudah dimandikan kenyamanan dan kemewahan seperti ini. Apa iya akan mau dan rela “berkorban” seperti itu?

Apa iya ke-INDONESIA-an kita yang gampang misuh-misuh di dalam mobil sejuk ber-AC saat terjebak macet, lebih kental dari mereka yang melenggang riang di pantai terbuka atau mendayung sampan perlahan di tengah laut luas saat menuju sekolah?

Apa iya semangat patriotisme, berjuang, atau belajar kita di ruang nyaman ber-AC ini, sama menyala dan berkobarnya dengan semangat mereka yang belajar di ruang yang remang tak berlampu dan kadang bocor saat hujan?

Selamat menemui dan menjadi INDONESIA yang sebenar-benarnya.

SELAMAT HARI SUMPAH PEMUDA!

SALAM INDONESIA!