Bertemu teman, menemukan kawan

Perjalanan

WAKATOBI bukan nama asli kepulauan itu. Ini nama aslinya!

pantai one melangka binongko wakatobi

Pantai One Melangka di Pulau Binongko, Kepulauan Wakatobi

WAKATOBI bukan nama asli kepulauan yang dikenal banyak orang sebagai kawasan taman nasional yang memiliki keanekaragaman hayati dan keindahan bawah laut, serta beberapa pantai yang cantik.

Karena sesungguhnya nama WAKATOBI secara resmi baru digunakan pada tahun 2003 bersamaan dengan diresmikannya kepulauan ini sebagai sebuah kabupaten baru, hasil pemekaran dari Kabupaten Buton – Sulawesi Tenggara.

Mungkin juga belum banyak yang tahu kalau WAKATOBI yang dipilih jadi nama kepulauan ini, sama sekali bukan berasal dari sebuah kata atau istilah dari bahasa daerah setempat.

Melainkan singkatan dari nama-nama pulau yang tergabung dalam kepulaian tersebut, yaitu Pulau Wanci, Kaledupa, Tomia, dan Binongko. WAKATOBI.

Dulu, sebelum dikenal dengan nama tersebut, kepulauan ini dikenal dengan nama Kepulauan Tukangbesi. Beberapa atlas dan peta yang dicetak sebelum hingga sampai tahun 1993, biasanya masih menuliskan nama tersebut untuk menamai gugusan pulau-pulau kecil yang terletak di tenggara Propinsi Sulawesi Tenggara tersebut.

Alasan diberi nama Kepulauan Tukangbesi atau orang-orang Belanda si pemberi nama menyebutnya dengan Toekang Besi Eilanden, sudah jelas alasannya. Karena di kepulauan ini, terutama di Pulau Binongko di daerah Popalia, jauh sebelum jaman Belanda, banyak ditemukan para pandai besi.

Sampai sekarang, di kanan kiri jalan kita masih bisa melihat para tukang besi sedang berkarya menimpa besi-besi membara dalam pondok-pondok sederhana yang berderet di kanan-kiri jalan arah menuju Popalia, khususnya di daerah Busoa.⁣

Pandai Besi di Pulau Binongko, Kepulauan Wakatobi
Pandai Besi di Pulau Binongko, Kepulauan Wakatobi.

Uniknya, meskipun banyak tukang besi di Binongko, tapi di pulau ini sama sekali tidak memiliki sumber alam berupa biji besi. Jadi seluruh bahan bakunya didatangkan dari luar pulau. Biasanya dari Pulau Jawa.

Walau demikian kualitas produk-produk tukang besi dari Binongko ini, terutama peralatan dan senjata tajam, dari jaman dahulu terkenal hingga ke mana-mana. Sampai-sampai konon parang yang digunakan Kapitan Patimura saat berjuang melawan penjajah, adalah hasil karya tukang-tukang besi Binongko.⁣

Begitu terkenalnya keampuhan dan kualitas senjata tajam dari Binongko, oleh-oleh yang diharapkan jika ada sanak atau kerabat yang berkunjung ke pulau ini, biasanya parang atau senjata tajam lainnya.⁣

Penjual suvenir senjata tajam dan alat dapur karya Pandai Besi dari Pulau Binongko, Kepulauan Wakatobi.
Penjual suvenir senjata tajam dan alat dapur karya Pandai Besi Pulau Binongko, Kepulauan Wakatobi.

Hanya saja karena membawa senjata tajam –apalagi yang berkualitas tinggi– dalam perjalanan mengendarai angkutan umum bukanlah hal yang mudah, maka orang-orang yang dimintai oleh-oleh akan berpikir dua kali jika diminta membawa suvenir khas Binongko ini.⁣

Itu juga sebabnya mengapa kedahsyatan parang Binongko kurang terdengar di wilayah Jawa dan Sumatera. Berbeda dengan daerah-daerah sekitar Sulawesi, Maluku, dan Papua, yang merupakan lokasi-lokasi tujuan utama produk-produk tukang besi ini dipasarkan selama ini.⁣

Waah jadi ingin jalan-jalan lagi to…
Semogaaa ini semua cepat selesai dan berlalu. Aamiiin…

Ngomong-ngomong, judulnya sudah cukup click-bait belum? 😀

8 Comments

  1. Hastira

    kapan ya bisa ke sana, mau sekali

  2. Dolan Mrono ketoe apik Kang :)))

  3. Riza Firli

    Baru tau wakatobi bukan nama asli.. next destination ahh mau kesana some day!

  4. Zam

    saya baru tau dulu Wakatobi disebut kepulauan Tukangbesi.. kira-kira kenapa bisa banyak pandai besi di pulau itu ya, mas? 🤔

    • Comment by post author

      Mungkin karena di Pulau Binongko ini sumber alam lainnya sangat sedikit Mas. Lokasinya benar-benar bebatuan, sangat sedikit lahan untuk bertani dan berkebun. Apalagi airnya payau. Jadi mau apa-apa agak susah.

      Jadi pilihannya adalah menjadi pedagang (yang bersaing dengan para pedagang dari Tomia, Kaledupa, dan Wanci), atau menjadi tukang besi yang waktu itu relatif langka di kawasan tersebut hingga ke Papua.

      Mungkin dari situ kemudian para leluhur orang di Pulau Binongko memilih bertahan menjadi pandai besi. Mungkin dulu masih menggunakan biji besi murni ya. Tapi kalau sekarang kebanyakan bahan bakunya dari per kendaraan-kendaraan besar yang sudah tidak terpakai lagi.

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.