Bertemu teman, menemukan kawan

Musik

Sheila On 7, Didi Kempot, dan Jakarta-effect

Sheila On 7 Didi Kempot dan Jakarta-effect

Photo by Tom Fisk from Pexels

Sheila on 7 berdasarkan data dari Wikipedia serta kemeriahan di media sosial kemarin, ternyata kemarin, 6 Mei 2020, berulang tahun ke-24.

Takdir telah menggariskan kalau sehari sebelum peringatan 3 windu berdirinya band dari Jogja ini, Didi Kempot, seorang seniman besar Indonesia, harus pergi meninggalkan kita semua.

Takdir pula yang –sependek ingatan dan pengetahuan saya– membuat setidaknya ada satu hal yang mirip dari perjalanan karir Sheila on 7 dan Didi Kempot.

Kesamaan tersebut terletak pada saat band keren dan maestro dunia tarik suara ini memulai perjalanan karir mereka. Ketika mereka belum seterkenal sekarang ini.

Bukan. Bukan tentang bagaimana perjuangan dan keprihatinan mereka berjuang dari bawah hingga sampai seperti sekarang ini. Hal itu pasti sudah banyak diceritakan di mana-mana.

Namun ini kisah tentang bagaimana mereka kurang begitu diterima (kalau tak ingin mengatakan ditolak) di lingkungan terdekat mereka sendiri.

SO7 seingat saya pernah dilempari ketika masih di atas panggung. Jadi bahan ejekan. Bahkan ada yang menjuluki “Sheila On The Block”. Dan itu kejadiannya di Jogja lho. Tempat kelahiran band ini.

Didi Kempot juga mengalami pengalaman yang nyaris mirip. Tidak diterima di kalangan sendiri. Bahkan ketika beliau sesungguhnya sudah bertaraf internasional, karena sudah sering bolak-balik ke Belanda dan Suriname. Bahkan untuk negara yang disebutkan terakhir, beliau jadi idola di sana.

Sementara di Indonesia, meskipun di awal tahun 2000-an Didi Kempot sudah akrab di telinga masyarakat Jawa Tengah dan sekitarnya, bahkan sampai ada radio yang punya sebuah program khusus memutarkan lagu-lagu Didi Kempot. Namun di sisi lain mereka masih malu mengaku sebagai pecinta Campursari, dan enggan mengaku kalau Didi Kempot adalah idola mereka. Padahal mereka sering mendengarkan lagu-lagu beliau.

Kemudian datanglah titik balik itu

S07 diterima oleh sebuah major label di Jakarta. Dibuatkan album rekaman, dibuatkan videoklip. Diorbitkan. Lalu mendapatkan respon yang luar biasa meriah di kalangan muda Jakarta.

Lalu seolah semesta berubah. Suara-suara mengejek perlahan-lahan sirna, tergantikan oleh suara-suara para pengagum dan penggemarnya.

Sampai waktu kemudian membuktikan, SO7-lah band yang masih tegar berkibar setelah sekian tahun berdiri seperti sekarang ini. Setidaknya jika dibandingkan dengan band-band lain yang lahir dan mulai tumbuh semasa dengannya.

Mas Dionisius Prasetyo juga mengalami pengalaman hampir serupa.

Kalau tidak ada postingan viral di media sosial, kemudian ditindaklanjuti Gofar Hilman dengan Ngobam-nya, mungkin anak-anak muda yang mengaku suka musik campursari dan membanggakan diri kalau mereka adalah bagian dari Sobat Ambyar, tidak akan sebanyak sekarang.

Jakarta-effect

Peran Jakarta sangat terasa dalam melambungkan Sheila On 7, dan makin memperluas pesona dan pengaruh Didi Kempot ke seluruh Indonesia.

Meskipun dalam khusus untuk Didi Kempot, sesungguhnya beliau sudah bisa dibilang kondang sampai mancanegara, namun sampai Jakarta meliriknya lewat vlog Gofar Hilman, Lord of Broken Heart belum tentu akan tersandang di namanya dan Sobat Ambyar belum tentu akan ada.

Sedangkan untuk SO7, setelah debutnya di Jakarta, para penista dan pembenci banyak yang berbalik menjadi pemuja.

Kenapa harus “lewat Jakarta” dulu? Mengapa pemuda-pemudi lokal harus menunggu band dari kampung halamannya diakui dulu di Jakarta, sebelum akhirnya bersedia mendukungnya?

Mengapa para pemuda-pemudi yang jauh di lubuk hatinya mencintai campursari namun malu mengakuinya karena sedang berada di tanah rantau, harus menunggu Mas Didi muncul di Ngobam dulu, sebelum dengan terbuka dan bangga lantang turut bernyanyi campur sari sambil gendong-gendongan di Synchronize Fest 2019?

Tapi itu dulu. Di masa kini dengan adanya media sosial, maraknya layanan streaming musik, serta ruang pajang di YouTube, perlahan-lahan band-band dan para musisi di manapun berada bisa lebih mudah membangun fan base mereka sendiri-sendiri.

Fan base yang terus dirawat itu makin berkembang hingga sampai tahap teman-teman dari Jakarta terkesima melihat jumlah dan antusias penonton sebuah band luar Jakarta, yang nama band bahkan belum pernah terdengar di telinga orang Jakarta.

Bahkan pernah ada kejadian hampir separuh penonton pagelaran dangdut di sebuah kota di Jawa Timur, satu persatu pulang ke rumah masing-masing setelah penyanyi dangdut idola mereka yang pernah jadi juara kontes menyanyi dangdut di televisi, selesai tampil.

Padahal malam masih panjang, dan masih ada beberapa penyanyi dangdut ibukota yang belum tampil.

Bagaimana dengan campursari?

Siapapun akan mengakui kalau Mas Didi sudah membukakan gerbang baru bagi para musisi campursari setelahnya. Yang membuat mereka dalam meniti jalan setapak awal karir, relatif lebih mudah ketimbang di masa Mas Didi berjuang dulu.

Beliaulah yang membuat campursari bisa diterima oleh seluruh kalangan di Indonesia. Sehingga para pendengar campursari masa kini bisa menerima karya-karya tersebut dengan nyaman dan percaya diri. Tanpa harus mendengarkannya secara diam-diam atau sembunyi-sembunyi, sebab khawatir dianggap kampungan, ndeso, atau jawir.

Dan untuk itu, pada Didi Kempot para musisi campursari maka kini harus berterima kasih.

4 Comments

  1. Zam

    iya juga ya, kenapa harus lewat Jakarta dulu, ya? 🤔

    • Comment by post author

      kalau jaman dulu, alasannya karena label-label besar pada berkantor di sana Mas. Untunglah sekarang ada Spotify dan semacamnya. Jadi enggak perlu ke Jakarta lagi supaya karyanya bisa didengar sedunia.

  2. Jakarta sepertinya jadi gerbang yang menggiurkan…. tapi sepertinya memang begitu adanya, beberapa band/musisi hijrah ke Jakarta biar bisa naik. Mungkin karena lingkungan bisnis di Jakarta cocok, kalau dii daerah biasanya masih kental dengan istilah “rega kanca”, jadi kurang menjanjikan…

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.