[TemuKonco Podcast Eps. 24] Sam Ardi – Freemasonry

Freemasonry. Hingga saat ini masih banyak yang menganggapnya sebagai organisasi rahasia. Bahkan ada yang berpikir kalau ini adalah sebuah organisasi terlarang.

Beruntung kenal dengan Sam Ardi. Seorang kawan dari Malang yang di luar kesibukan hariannya sebagai dosen, ternyata memiliki renjana meneliti Freemasonry dengan niat, telaten, dan detil.

Oleh karenanya ketika beliau berkunjung ke Yogyakarta beberapa waktu lalu, saya langsung minta ijin untuk ngobrol tentang Freemasonry untuk materi TemuKonco Podcast.

Berikut hasil obrolan kami, yang karena satu dan lain hal banyak yang dipotong di sana-sini.

Monggo…

Kerabat Kerja:
1. Supervisor : Jatmiko Kresnatama
2. Chief Project & Teknis Audio : Very Farobye

Direkam di sebuah lokasi yang karena satu dan lain hal tidak dapat saya beritahukan di sini.

Sentuhan manis di Post-production oleh: Waiwai Studio di bawah asuhan Lintang Enrico.

3 thoughts on “[TemuKonco Podcast Eps. 24] Sam Ardi – Freemasonry”

  1. Waduh, anak jakardah kena tuduh, nih. 😀 Soal “Jawa”.

    Gue mo ngomong pengalaman pribadi. Justru, yang mengatakan Jawa Tengah, Jawa Timur, dan DIY sebagai Jawa adalah orang dari suku Jawa sendiri.

    Ketika orang mengatakan, “saya mau pulang ke Jawa,” itu bukanlah masalah geografis, tapi masalah suku. Maksudnya mungkin, “saya mau pulang ke daerah asal suku saya, yaitu suku Jawa,” tanpa menyebut wilayah mana secara spesifik karena memang bukan ngomongin masalah geografi.

    Sumpah, kalimat itu adalah ekspresi yang jadul banget sampe gue sendiri engga tau asal muasal kesalah pahaman ini sejak kapan. Cara orang2 jaman dulu menyampaikan maksud dan pemikiran secara verbal tentunya berbeda dengan cara orang2 jaman sekarang berekspresi. Itulah kenapa gue tu kalo ngomong sama orang yang umurnya udah banyak banget, kadang harus menangkap cara dia berekspresi, supaya engga salah paham.

    Tapi yah, entah kenapa ekspresi ini terus2an dipakai sampai sekarang dan malah terjadi sedikit kesalah pahaman.

    Jadi gue ulang sekali lagi, ini bukan masalah geografis, tapi masalah penyebutan suku dengan ekspresi yang udah jadul buanget.

    Reply

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.